Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Drama anak. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Februari 2013

Naskah Drama Anak - Obat Sakit Perut Si Unyu Part. 3


Ibu       : Sudah – sudah, lain kali jangan diulang lagi Nyu, tidak baik begitu. Kalau nanti ibu sakit jantung bagaimana?
Si Unyu           : iya bu maaf, Unyu janji tidak berbohong seperti itu lagi.
Ibu                   : ya sudah, coba sana minta maaf sama kakakmu, dan kamu harus berjanji kalau kamu tidak akan berbohong lagi.
Si Unyu kemudian pergi menghampiri kakaknya untuk minta maaf. Dengan merasa bersalah unyu pun meminta maaf.
Si Unyu           : kak, maafkan Unyu ya sudah berbohong dan buat kakak khawatir tadi.
Ayu                 : iya, kakak maafkan. Tapi janji ya jangan berbohong lagi. Berbohong itu perbuatan yang tidak baik dan bisa merugikan diri sendiri serta orang lain.
Si Unyu           : Iya kakak. Teman – teman, maafkan Unyu juga ya. Kalian jangan mengikuti perbuatan Unyu seperti tadi. Karena Unyu sekarang sudah mengerti, kalau berbohong itu tidak baik. (merasa menyesal dan bersalah)
Wina                : iya Nyu, kita tidak akan berbohong seperti kamu kok, kan kami juga takut di operasi. Ha, ha, ha, ha…
Ara                  : oh iya, jadi kapan kita makan kolaknya?
Ibu                   : ayo sekarang kita makan, kolaknya sudah ibu siapkan di meja makan.
Si Unyu, Ara, Wina : Asyiiiiiiiiikk…….
Mereka pun lalu memakan kolaknya bersama – sama, sambil mengingat kembali kejadian tadi. Si Unyu pun tidak akan berbohong dan nakal lagi. Kini ia mulai mengerti bahwa berbohong adalah perbuatan yang tidak baik karena dapat merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Begitu juga Ara dan Wina, mereka pun mengambil contoh yang baik dari peristiwa tersebut. Bagi mereka peristiwa ini adalah pelajaran yang dapat mereka ambil hikmahnya yang baik dan yang buruk.

SEKIAN
TERIMA KASIH

Tugas membuat Naskah drama dan memerankannya yang diampuh oleh Siti Halidjah, M.Pd selaku dosen mata kuliah Kajian Bahasa Indonesia SD di PGSD Universitas Tanjungpura Pontianak.
Terima kasih atas pemeran yang bersedia melakoni perannya dengan sangat baik, serta rekan - rekan seperjuangan yang telah mendukung saya.

Kak Ayu diperankan oleh Yulis Nurmayanti, NIM F32112023.
Si Unyu diperankan oleh Ricky Ramdhani, NIM F321120..
Ibu diperankan oleh Septiana Dwi Sari, NIM F32112013.
Dr. Erik diperankan oleh Hendrik Gunawan, NIM F321120..
Ara diperankan oleh Sara Hena, NIM F32112036.
Wina diperankan oleh Yuli Winarti, NIM F32112008.

Naskah Drama Anak - Obat Sakit Perut Si Unyu part. 2

Adegan IV

Tidak lama kemudian Ayu menemui dokter Erik yang kebetulan dokter ada di jalan. Ia meminta dokter Erik datang ke rumahnya. Adiknya Si Unyu, tiba-tiba sakit. Ibu pun sangat khawatir begitu juga dengan teman – temannya.
Ayu                 : Dok.. tolong dok!! (sambil mengatur nafas yang terengah – engah)
Dr. Erik           : Ada apa? Coba tenangkan dulu... Nah sekarang ceritakan bagaimana kejadiannya!
Ayu                 : Si Unyu dok, perutnya sakit. Mula – mula dia bermain ular tangga bersama teman – temannya. Lalu saya menyuruh dia untuk membeli gula jawa dan dia tidak mau.
Dr. Erik           : Setelah itu dia bermain lagi?
Ayu                 : Iya, Dok! Akan tetapi, ketika saya makan kolak, dia minta. Saya tidak memberinya, dan menyuruh dia untuk bermain lagi.
Dr. Erik           : Oh,baiklah! Ayo, kita ke sana! Kita lihat keadaannya dahulu baru saya akan mengetahui keadaan dia.
Ayu                 : Ayo dok.

Adegan V
Si Unyu berbaring di tempat tidur. Ibu, Wina dan Ara duduk di samping tempat tidur itu sambil prihatin melihat keadaan si Unyu yang menahan sakit perutnya. Ibu membelai kepala si Unyu dengan muka sedih. Si Unyu tetap berteriak – teriak dan menangis menahan sakit perutnya, Tak lama kemudian, dokter Erik dan Ayu mengetuk pintu.
Dr. Erik           : Assalamu’alaikum!(sambil mengetuk pintu)
Ibu                   : Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh! Silakan masuk. Dok! Tolong periksa anak saya dok, tiba – tiba perutnya sakit dan hingga sekarang ia tidak henti berteriak dan menangis menahan sakit.
Ara                  : Dok, Unyu sakit apa dok?
Dr. Erik           : Sabar ya, saya periksa dulu?
Ibu                   : Silakan, Dok!
Dr. Erik lalu mengeluarkan stetoskop dan memeriksa perut si Unyu. Setelah cukup, ia mengalungkan kembali stetoskopnya.

Dr. Erik pun berfikir seperti orang yang bingung sambil melihat Si Unyu yang tidak ingin di periksa dokter. Akhirnya Dr. Erik pun memutuskan apa yang harus di tindak lanjuti untuk keselamatan Si Unyu.

Dr. Erik           : Wah, sakitnya sangat  gawat! Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya harus dioperasi sekarang juga. Jadi tolong kepada ibu dan kakak untuk memegang Si Unyu. (Mengeluarkan pisau bedah yang sangat tajam dan akan dipakai untuk membedah perut si Unyu)
Wina                : memangnya unyu sakit apa dok?
Ara                  : iya dok, sakit apa?
Ibu                   : Dok, apa harus operasi sekarang juga? Apa tidak bisa dengan obat, Dok? (dengan perasaan yang amat sangat kaget)
Dr. Erik           : Tidak bisa, Bu! Harus operasi karena penyakitnya gawat!
Si Unyu           : Jangan dioperasi, Dok! Saya tidak mau! (Sambil meronta mau lari, tetapi dipegang erat – erat oleh ibunya dan Ayu). Tolong, Dok! Jangan dioperasi, Dok! Saya cukup diberi obat itu saja!
Dr. Erik           : Obat apa, Nyu? Tolong bisikkan ke telinga Bapak!  (Mendekatkan telinganya ke mulut si Unyu. Unyu membisikkan sesuatu).
Baiklah, Bu! Nyu, Bapak setuju tidak mengoperasi  kamu, tetapi kamu janji ya tidak nakal lagi jangan sampai kamu mengkhawatirkan orang tua mu. Jika kamu masih nakal pasti orang tua kamu akan bersedih.
Si Unyu           : Baik, Dok. Saya berjanji!
Dr. Erik lalu berpamitan dan menulis resep untuk penyakit Unyu. Si Unyu pun duduk tidak berteriak kesakitan dan juga tidak menangis lagi.
Ketika Dr. Erik keluar dari pintu berpamitan dan ibu mengucapkan terima kasih, Ibu lalu menyuruh Ayu untuk membuka dan membaca resep itu. Agar Unyu cepat diberi obat. Ayu pun membukanya.
Ayu                 : Ha, ha,  ha. (tertawa geli setelah membaca resep) Ya Allah bu, bu…!
Ibu                   : Apa obatnya, Yu? Kok, kamu malah tertawa! (Penasaran sekali)
Wina                : iya kak, apa obatnya kak? Kasihan Unyu kak. (merasa heran)
Ayu                 : Sudah jangan panik, Silakan baca sendiri resep ini, Bu! (Sambil menyodorkan resep ke ibunya)
Ibu                   : Aduh, Yu! Ibu tidak bisa membaca kalau tidak pakai kacamata. Coba kamu baca yang keras!
Ayu                 : Baik, Bu! Sudah siap bu? (menatap ibu sambil tersenyum)
Ibu                   : Ya sudah, kamu ini kok malahan bercanda si yu, cepat bacakan. (sambil menunggu ayu membacakan)
Ayu                 : Obatnya adalah kolak satu mangkok !
Ara & Wina     : ha, ha,  ha!!!! (tertawa dengan geli sekali) Unyu, orang minta kolak saja kok pura – pura sakit perut.
Ibu                   : Aduh, Nyu! Bikin deg – degan Ibu saja, kamu ini!!!! Bilang dong, minta kolak. Kamu tidak perlu guling – guling seperti itu! Ibu takut sekali kamu ada apa – apa tadi. Sampai – sampai dokter ingin mengoperasimu! (dengan perasaan kecewa serta merasa lega)
Ayu, Ara dan Wina menertawakan Si Unyu bersama – sama. Unyu pun menundukkan mukanya sambil menahan malu.
Si Unyu           : Tadi, Kak Ayu bilang Unyu tidak boleh makan kolak, sih! Makanya Unyu mencari alasan.
Wina                : kamu si Nyu di suruh kakak, kamu tidak mau pergi, akhirnya kan kakak kesel sama kamu.
Ara                  : iya Nyu, kamu sih susah dibilangin dengan kakak.
Ayu                 : makanya jangan nakal jadi adik, kalau kamu berbohong nanti kakak panggilkan dokter lalu kakak suru mengoperasi perut kamu!
Si Unyu           : Jangan kak… Unyu tidak mau di operasi!! Bu… kakak jahat bu…
Ibu                   : Sudah – sudah, lain kali jangan diulang lagi Nyu, tidak baik begitu. Kalau nanti ibu sakit jantung bagaimana?


Naskah Drama Anak - Obat Sakit Perut Si Unyu part.1


Obat Sakit Perut Si Unyu

Adegan I
Di pagi hari yang cerah, di sebuah teras rumah, Si Unyu , Ara, dan Wina bermain ular tangga. Mereka asyik mengacak buah dadu sambil mengeluarkan suara, satu.. dua..  tiga..  empat..  lima.. enam.. hore naik tangga… ! ! ! !
Tak lama kemudian, datang Ayu, kakak si Unyu.
Ayu                 : Nyu, Ibu nyuruh kamu beli gula jawa untuk membuat kolak !
Si Unyu           : Ah, tidak mau! Kakak saja!
Ayu                 : lho, yang disuruh kamu, kok, malah ganti nyuruh kakak!
Ara                  : iya Nyu, kamu ke warung dulu sana. Nanti baru kita lanjutin lagi bermainnya, kami kan belum mau pulang.
Si Unyu           : Pokoknya nggak mau!(sambil terus asyik main ular tangganya)
Wina                : Unyu kok kamu bicaranya kasar dengan kak ayu? kan kita tidak boleh berbicara kasar dengan orang yang lebih tua.
Ara                  : betul nyu kata wina, kalau kita tidak boleh melawan orang tua apalagi berkata kasar.
Si Unyu           : kalian sok dewasa banget sih, seperti nenek – nenek saja kalau ngomel. (sambil menggerutu ia tetap melanjutkan bermainnya)
Wina                : kami tidak bermaksud sok dewasa kok. (jawab wina dengan nada lembut)
Ara                  : iya nyu kan kami teman kamu yang baik.
Ayu                 : sudah – sudah, biarin saja dia. Awas ya, nanti kalau kolaknya matang, kamu tidak boleh minta.
Si Unyu           : aku tidak akan minta. Aku tidak doyan kolak, kok!
Ayu                 : ya sudah kalau begitu, kakak berikan ke teman – temannmu saja.
Ara & Wina    : terima kasih ya kak (jawab dengan nada ceria dan kompak).
Si Unyu          : berikan saja, kan aku sudah bilang kalau tidak suka kolak, masalah buat kakak.
Ayu                : ih kamu ini, susah banget dibilangin. Awas ya kamu! (menjawab dengan kesal)
Ayu lalu pergi membeli gula jawa. Sementara itu, si Unyu tetap asyik bermain ular tangga dengan teman – temannya.

Adegan II
Ibu Si Unyu dan Ayu menuang kolak yang sudah matang ke dalam panci besar itu, ibu membawanya ke meja makan. Ayu lalu mengambil kolak di mangkok dan makan di meja makan. Sementara ibunya masuk dapur kembali. Tiba – tiba si Unyu masuk dan berkata sambil merengek.
Si Unyu           : Kak . . . . !!!!!
Ayu                 : Apa!!!! Mau minta ???!!!! Sori ya! Tadi kamu bilang sudah tidak doyan kolak. Kok sekarang mau minta. Tidak bisa! Sana..
Si Unyu           : iiih…. Kakak. Kak . . .!!!!
Ayu                 : Duh, pergi sana! Pokoknya, kamu tidak boleh makan kolak! Sana ke teras.
Si Unyu  lalu keluar dengan perasaan kecewa dan kesal kemudian ibu menghampiri Ayu.
Ibu                   : Ada apa sih kalian ribut dari tadi? Kamu jangan begitu donk dengan adik mu.
Ayu                 : Biarin saja bu, habisnya si Unyu tidak mau dibilangin, semakin besar semakin susah di nasehati.
Ibu                   : Tapi kamu jangan keterlaluan ya menasehatinya. Kasihan dia masih kecil. Kamu dulu juga begitu waktu kecil.
Ayu                 : siap bu! (sambil tertawa kecil)

Adegan III
Si Unyu lalu menemui teman – temannya di teras rumah. Dengan perasaan yang kecewa dan kesal ia berjalan dengan tidak semanggat dengan muka merengut sambil berdecak.
Wina                : Ada apa nyu? Kenapa muka kamu merengut begitu?
Si Unyu           : Tidak ada apa – apa kok, hanya perasaan kamu saja (dengan muka yang masih merengut)
Tiba – tiba, ia memegang perutnya sambil berteriak – teriak kesakitan dan berbaring dilantai. Ara dan Wina pun panik ketakutan melihat si Unyu seperti itu.
Ara                  : Ada apa, Nyu?!
Wina                : Perutmu sakit, ya?
Si Unyu           : Iya, aduh . . . .aduh aduh! (sambil memegang perutnya lalu menjatuhkan diri sambil mengerang – erang kesakitan)
Ara & Wina     : Kak Ayu, Kak Ayu! Unyu sakit perut Kak!
Ayu segera datang. Ketika ia melihat adiknya tiduran sambil memegang perutnya, ia jadi khawatir sekali.
Ayu                 : Hah, mengapa kamu, Nyu? (Ia lalu memegang perut adiknya, tetapi ditolak dengan teriakan sakit)
Si Unyu           : Aduh, jangan dipegang , Kak! Sakit sekali, sakit. Hu.. hu.. hu..(menangis)
Ayu                 : Ibu!!!! (berteriak keras) Sini, Bu!!! Tiba-tiba Unyu sakit, Bu! (Ibunya lalu datang)
Ibu                   : Aduh, ada apa Nyu? Ayo, tolong angkat dan baringkan ke tempat tidur. Ara, Wina bantu Ibu. Ayu, panggil dokter  Erik !
Ayu                 : Baik Bu! (sambil bergegas pergi)